PADANG-Solar semakin langka di lintas Sumatera. Perjalanan bus Sumbar butuh waktu lama dari Sumbar ke Jabodetabek maupun sebaliknya. Tiap SBPU di lintas Sumatera menjadi titik macet karena banyaknya kendaraan yang antre.
Bus Sumbar harus berjam-jam menanti untuk dapat solar. Malahan, pembelian terkadang juga dibatasi. Biosolar merupakan BBM subsidi yang sepertinya pemerintah sudah kewalahan untuk mengimpornya. Dengan demikian, pemerintah mengurangi kuota masing-masing SBPU.
Kelangkaan solar itu mengakibatkan bus-bus Sumbar terlambat sampai tujuan. Biasanya bisa siang masuk di Solok, kini malam, bahkan hamper tengah malam. Waktu terbuang demi antre.
Negara macam apa ini? Kok tega-teganya membiarkan rakyat kesusahan. Di lain pihak, penyelenggara negara korupsinya makin brutal dan terang-terangan. Tak ada lagi rasa malu dan itikad baik untuk memperbaiki keadaan negara. Anehnya, pemerintah justru merasa di jalan yang benar. “Jalan yang benar ndasmus. Amai ang jalan yang benar. Rakyat sudah marasai dan kehidupan yang semakin susah. Ndasmu,” kata seorang warga Padang yang hendak ke Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Dampak keterlambatan bus Sumbar, perusahaan otobus dihujat oleh pelanggannya lantaran keterlambatan pemberangkatan. Sebab, penumpang juga sudah agenda yang terjadwal, sehingga waktu jadi berharga.
Keterlambatan bus Sumbar kentara sekali sebulan terakhir. Jadwal keberangkatan dan kedatangan bus sering telat dari jadwal yang dicantumkan di tiket penumpang.
Menyikapi hal tersebut, pengurus dan operator bus AKAP pun membuat pengumuman resmi di media sosial masing-masing PO yang memeberitahukan penyebab telatnya jadwal keberangkatan bus yang disertai permintaan maaf.
Hei, si Bolu Ketan, lihatlah rakyat yang kesuahan. (*)













