KUANSING–Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teluk Kuantan kembali menorehkan sejarah baru dalam pelayanan kesehatan. Untuk pertama kalinya, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) itu berhasil melakukan operasi bedah saraf kegawatdaruratan berupa kraniektomi dekompresi tanpa harus merujuk pasien ke Pekanbaru.
Keberhasilan operasi yang dilaksanakan pada awal Juli 2026 tersebut menjadi tonggak penting dalam peningkatan layanan kesehatan di Kuansing, khususnya dalam penanganan kasus bedah saraf darurat yang selama ini harus dirujuk ke rumah sakit di ibu kota Provinsi Riau.
Pasien berjenis kelamin laki-laki itu datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kondisi penurunan kesadaran akibat kecelakaan lalu lintas. Hasil pemeriksaan menggunakan CT Scan 128 Slice menunjukkan adanya perdarahan otak yang luas, peningkatan tekanan intrakranial, serta fraktur pada tulang tengkorak.
Dokter Spesialis Bedah Saraf RSUD Teluk Kuantan, dr. Ricky Rusydi Satriawan, SE, Sp.BS, menjelaskan bahwa kondisi pasien merupakan kegawatdaruratan medis yang harus segera ditangani melalui operasi.
“Jika tidak segera dilakukan tindakan CITO, risiko kematian pasien sangat tinggi. Kraniektomi dekompresi merupakan prosedur penyelamatan nyawa dengan membuka sebagian tulang tengkorak agar otak yang mengalami pembengkakan memiliki ruang sehingga tekanan di dalam kepala dapat berkurang,” ujar dr. Ricky, Kamis (30/7/2026).
Operasi tersebut dipimpin langsung oleh dr. Ricky bersama Dokter Spesialis Anestesi dr. Benni Antomy, Sp.An, didukung tim perawat kamar operasi serta tenaga medis Intensive Care Unit (ICU). Seluruh prosedur berjalan lancar dan berlangsung selama kurang lebih dua jam.
Menurut dr. Ricky, tantangan terbesar dalam operasi tersebut adalah kecepatan pengambilan keputusan dan tindakan.
“Setiap menit sangat berharga untuk mencegah kerusakan otak permanen saat proses evakuasi hematoma dan dekompresi dilakukan,” katanya.
Pasien Berangsur Pulih
Usai menjalani operasi, pasien dirawat secara intensif di ruang ICU. Tim medis terus memantau tekanan intrakranial, keseimbangan cairan dan elektrolit, serta melakukan pencegahan infeksi hingga kondisi pasien dinyatakan stabil.
Setelah itu, pasien menjalani program rehabilitasi medik. Saat ini kondisinya terus membaik, telah mampu kembali beraktivitas, dan menjalani kontrol rutin sebagai pasien rawat jalan.
Sebagai tindak lanjut, pasien dijadwalkan menjalani operasi kranioplasti sekitar satu setengah bulan mendatang untuk mengembalikan tulang tengkorak yang sebelumnya dibuka saat tindakan penyelamatan.
“Alhamdulillah, ini merupakan pencapaian yang sangat membanggakan. Kini masyarakat Kuansing dapat mengakses layanan bedah saraf secara langsung di RSUD Teluk Kuantan tanpa harus dirujuk ke Pekanbaru,” ungkap dr. Ricky.
Didukung Peralatan Modern
Direktur RSUD Teluk Kuantan, dr. Benni Antomy, mengatakan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan fasilitas kesehatan yang semakin lengkap.
RSUD Teluk Kuantan kini telah dilengkapi berbagai peralatan modern, mulai dari instrumen bedah saraf, CT Scan 128 Slice, hingga perangkat bor tulang kepala berteknologi tinggi yang mampu menunjang tindakan operasi dengan tingkat kesulitan tinggi.
“Sarana dan prasarana yang kami miliki sudah sangat memadai untuk menangani kasus bedah saraf yang kompleks seperti ini,” ujarnya.
Ke depan, RSUD Teluk Kuantan akan terus memperkuat layanan neurologi dengan mengoperasikan Unit Stroke berkapasitas 20 tempat tidur serta menambah jumlah dokter spesialis saraf.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan medis yang cepat, tepat, dan berkualitas sehingga masyarakat Kuansing tidak lagi terkendala oleh jauhnya jarak rujukan ke ibu kota provinsi,” tutup dr. Benni. (ridho)













