Indonesia Alami dalam Krisis Keteladanan, Tiap Sebentar Ndasmu, Kini Muncul Pula Londo Ireng

Ilustrasi. (Konten AI)
Ilustrasi. (Konten AI)

PADANG-Indonesia sekarang sedang mengalamoi krisis keteladanan. Tak banyak figur yang ditiru dan diteladani. Masing-masing tokoh sibuk dengan urusan masing-masing.

Urusan masing-masing itu antara lain, kalau punya jabatan bagaimana bisa dua periode. Setelah dua periode, kalau bisa anak pula yang berkuasa.

Ketika berkuasa berpikir bagaimana cara mencari uang sebanyak mungkin. Bagaimana harta terus bertambah. “Ampun kita, negara macam apa ini,” ujar seorang warga, Ijal di Padang, Selasa (28/7/2028).

Dia menambahkan, seharusnya elite memberikan contoh ke rakyat. Dengan demikian, masyarakat punya keteladanan.

“Yang terjadi, malah elite yang merendahkan rakyatnya sendiri. Tiap sebentar keluar kata satire pada rakyat, kan aneh,” katanya.

Satire yang sering didengar masyarakat, adalah ndasmu. Lalu, sekarang muncul pola londo ireng. Sedikit-sedikit antek asing.

Wacana mengenai krisis keteladanan di Indonesia kembali mengemuka di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap berbagai persoalan yang melibatkan penyelenggara negara, aparat, hingga tokoh publik.

Sejumlah pengamat menilai, masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cakap dalam mengambil kebijakan, tetapi juga figur yang mampu menjadi teladan melalui sikap, integritas, dan konsistensi dalam menjalankan amanah.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus dugaan korupsi, penyalahgunaan wewenang, konflik kepentingan, hingga pelanggaran etika yang menyeret sejumlah pejabat telah memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik.

Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memunculkan persepsi adanya krisis keteladanan di berbagai lini kehidupan.

Pengamat sosial menilai keteladanan merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik. Seorang pemimpin dinilai tidak cukup hanya menghasilkan kebijakan yang baik, tetapi juga harus menunjukkan integritas, transparansi, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.

Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga menjadi perhatian sejumlah lembaga survei. Hasil survei terbaru menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, dengan faktor ekonomi, kondisi politik, dan penegakan hukum menjadi isu yang banyak disorot responden.

Di sisi lain, berbagai kalangan menilai krisis keteladanan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Dunia pendidikan, keluarga, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta dinilai memiliki peran penting dalam membangun budaya integritas sejak dini.

Para pemerhati pendidikan menekankan, generasi muda membutuhkan figur yang mampu memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian teori atau slogan mengenai nilai-nilai moral dan kebangsaan.

Penguatan pendidikan karakter, penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu, serta peningkatan transparansi dalam tata kelola pemerintahan disebut sebagai langkah penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Selain itu, konsistensi para pemimpin dalam menjunjung etika publik diyakini menjadi kunci dalam mengatasi persepsi krisis keteladanan yang berkembang di tengah masyarakat.

Pengamat berharap seluruh elemen bangsa dapat menjadikan integritas sebagai nilai utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga keteladanan kembali menjadi budaya yang menguatkan persatuan serta kepercayaan publik terhadap berbagai institusi.

Kok tega merendahkan dan mengejek mnasyarakat. Padahal, pemimpin disebut pemimpin karena ada rakyat dan rakyat pula yang memilih pemimpin.

Tega amat lu, pemimpin pakak dan engak ! (*)



Kunjungi Kami di Google News:

google news
Exit mobile version