PADANG-Harga sejumlah komoditas cabai di Padang kembali mengalami pergerakan. Kenaikan paling mencolok terjadi pada cabai rawit merah yang harganya telah menembus kisaran Rp81 ribu per kilogram.
Kenaikan harga itu merupakan imbas dari kabut asap dan kemarau panjang yang berakibat pada penurunan produksi di tingkat petani.
“Baa caro e ka balanjo lai ko. Gaji sebanyak itu juga, kebutuhan mahal semua,” kata Eli, ibu rumah tangga di Padang, Sabtu (12/9/2026).
Harga cabai rawit merah tercatat Rp81.667 per kilogram. Angka tersebut meningkat dibandingkan harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp80.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada cabai rawit hijau. Komoditas tersebut naik dari sekitar Rp54.667 menjadi Rp56.333 per kilogram.
Sementara itu, harga cabai keriting merah relatif bertahan di kisaran Rp50.000 per kilogram. Berbeda dengan beberapa jenis cabai lainnya, harga cabai hijau justru mengalami penurunan dari Rp42.667 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kota Padang, Edrian Edwar, mengatakan pergerakan harga cabai masih terjadi di pasar.
Kondisi tersebut menunjukkan harga komoditas hortikultura di Kota Padang masih cukup fluktuatif. Perubahan harga dapat terjadi mengikuti kondisi pasokan dan permintaan di pasar.
Sebelumnya, pada 8 September 2026, harga cabai keriting merah juga sempat mengalami kenaikan hingga Rp50.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp49.333 per kilogram. Cabai keriting hijau turut naik dari Rp38.667 menjadi Rp42.667 per kilogram.
Data pembanding dari PIHPS Bank Indonesia mencatat rata-rata harga cabai merah di Kota Padang pada 9 September 2026 berada di angka Rp51.000 per kilogram. Di Pasar Raya, harga tercatat sekitar Rp50.000 per kilogram, sedangkan di Pasar Siteba sekitar Rp52.000 per kilogram.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau tetap mencermati perkembangan harga ketika berbelanja kebutuhan dapur, terutama cabai yang dalam beberapa hari terakhir mengalami perubahan harga.
Harga di masing-masing pasar maupun pedagang dapat berbeda karena dipengaruhi pasokan, kualitas komoditas, serta kondisi transaksi di tingkat pedagang. (*)












