opini  

Saat Kebenaran Dikalahkan Notifikasi

Ilustrasi. (Konten AI)
Ilustrasi. (Konten AI)

Suatu pagi, sebelum benar-benar membuka mata, banyak orang sudah lebih dahulu membuka layar ponselnya. Puluhan notifikasi menunggu untuk dibaca. Berita terbaru, video viral, komentar yang memancing emosi, hingga berbagai informasi yang datang tanpa jeda. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di tempat yang jauh sekaligus ikut menyebarkannya kepada orang lain.

Pemandangan ini menunjukkan satu hal: kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat aktivitas digital yang sangat tinggi. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 229 juta orang. Jumlah tersebut menggambarkan betapa besarnya ruang publik digital yang terbentuk dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Kemajuan teknologi tentu patut disyukuri. Informasi menjadi lebih mudah diakses, ruang partisipasi semakin terbuka, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan gagasannya kepada khalayak luas. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat persoalan yang semakin mengkhawatirkan: kaburnya batas antara fakta, opini, dan manipulasi informasi.

Dahulu, komunikasi massa berjalan melalui mekanisme yang relatif jelas. Informasi diproduksi oleh lembaga media, diperiksa oleh editor, diverifikasi oleh jurnalis, kemudian disampaikan kepada publik. Dalam ilmu komunikasi, proses ini dikenal sebagai gatekeeping, yaitu penyaringan informasi sebelum sampai kepada masyarakat.

Hari ini, fungsi tersebut mengalami perubahan besar. Media sosial memungkinkan siapa saja menjadi produsen informasi. Tidak diperlukan ruang redaksi, tidak diperlukan proses penyuntingan, bahkan sering kali tidak diperlukan verifikasi. Yang dibutuhkan hanya koneksi internet dan tombol “bagikan”.

Akibatnya, kecepatan perlahan menggantikan akurasi sebagai nilai utama dalam distribusi informasi. Sebuah informasi yang viral sering kali dianggap benar hanya karena banyak orang mempercayainya. Popularitas menjadi ukuran kredibilitas baru, sementara proses pengecekan fakta justru tertinggal di belakang.

Di sinilah paradoks masyarakat digital muncul. Kita tidak lagi hidup dalam kelangkaan informasi, melainkan dalam kelimpahan informasi. Yang langka saat ini bukanlah berita, melainkan kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika algoritma media sosial mengambil alih sebagian besar peran distribusi informasi. Jika dahulu editor menentukan berita berdasarkan nilai kepentingan publik, kini algoritma menentukan apa yang muncul di layar pengguna berdasarkan peluang memperoleh perhatian dan interaksi.

Algoritma tidak dirancang untuk mencari kebenaran. Ia dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Karena itu, konten yang memancing emosi sering kali memperoleh ruang lebih besar dibandingkan informasi yang tenang berimbang,dan faktual.

Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai echo chamber, yaitu ruang gema yang membuat seseorang terus-menerus mendengar pandangan yang serupa dengan keyakinannya sendiri. Akibatnya, masyarakat semakin sulit menemukan titik temu karena masing-masing kelompok hidup dalam realitas informasinya sendiri.
Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan teknologi. Ini adalah persoalan sosial, budaya, bahkan demokrasi. Ketika masyarakat tidak lagi memiliki pijakan fakta yang sama, dialog publik menjadi rapuh. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, sementara informasi yang seharusnya menjadi jembatan justru menjadi pemicu perpecahan.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dalam berbagai laporannya masih menemukan ribuan konten hoaks yang beredar di ruang digital. Angka tersebut menunjukkan bahwa disinformasi bukan ancaman masa depan, melainkan masalah yang sedang berlangsung saat ini.
Lebih mengkhawatirkan lagi, perkembangan kecerdasan buatan memungkinkan terciptanya gambar, suara, dan video yang tampak sangat meyakinkan meskipun tidak nyata. Dalam beberapa tahun ke depan, tantangan masyarakat bukan hanya membedakan informasi benar dan salah, tetapi juga membedakan mana kenyataan dan mana hasil rekayasa teknologi.

Karena itu, memperkuat etika komunikasi massa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Media harus tetap menjaga standar verifikasi dan independensinya. Institusi pendidikan perlu memperluas literasi digital yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara berpikir kritis terhadap informasi.

Di saat yang sama, masyarakat perlu menyadari bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi sosial. Ketika seseorang membagikan sebuah informasi kepada ratusan atau ribuan orang, ia sesungguhnya sedang menjalankan fungsi komunikasi massa. Kebebasan berekspresi memang merupakan hak setiap warga negara, tetapi hak tersebut selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.

Pada akhirnya, masa depan ruang publik tidak akan ditentukan oleh kecanggihan algoritma ataupun kecepatan internet. Masa depan ruang publik ditentukan oleh kemampuan masyarakat mempertahankan nilai-nilai dasar komunikasi: kejujuran, verifikasi, dan tanggung jawab.
Sebab sebuah bangsa tidak runtuh karena kekurangan informasi. Sebuah bangsa justru dapat kehilangan arah ketika informasi yang beredar terlalu banyak, tetapi kebenaran semakin sulit ditemukan.

Di tengah banjir notifikasi yang tidak pernah berhenti, menjaga kualitas informasi bukan sekadar tugas media atau pemerintah. Ia adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat yang memperkuat peradaban, bukan sebaliknya. (Diva Nur’Agmalia, Mahasiswa Ilmu Komunikasi)

Baca berita lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *