JEMBER – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember pada triwulan pertama 2026 mencapai 6,35 persen, tertinggi di kawasan Sekar Kijang dan melampaui capaian Provinsi Jawa Timur maupun nasional. Di balik angka tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember menilai keberhasilan itu tidak terlepas dari strategi pengelolaan belanja daerah yang lebih terarah dan berorientasi pada dampak ekonomi masyarakat.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, pendekatan tersebut sejalan dengan hasil riset yang ia tuangkan dalam disertasi doktoralnya di Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
Dalam disertasinya yang berjudul Analisis Peran Belanja Pemerintah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Jawa Timur, Fawait menelaah hubungan antara efektivitas belanja pemerintah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kajian tersebut menekankan bahwa anggaran daerah tidak cukup hanya terserap secara administratif, melainkan harus diarahkan pada sektor-sektor yang mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian.
“Belanja pemerintah harus mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, anggaran perlu difokuskan pada sektor-sektor produktif yang memiliki dampak luas terhadap pendapatan warga dan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Gus Fawait, sapaan akrabnya, dalam keterangan tertulis yang diterima liputankini.com, Sabtu (13/6/2026).
Menurut dia, prinsip tersebut kini mulai diterapkan dalam kebijakan pembangunan Kabupaten Jember. Pemerintah daerah mempercepat realisasi program yang menyentuh sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertanian, ketahanan pangan, serta pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Gus Fawait menilai, percepatan pelaksanaan program pembangunan juga menjadi faktor penting. Ketika proses birokrasi dapat dipangkas dan penyerapan anggaran berjalan lebih cepat, perputaran uang di masyarakat ikut meningkat sehingga mendorong konsumsi dan produktivitas ekonomi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jember pada triwulan pertama 2026 mencapai 6,35 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,96 persen dan nasional sebesar 5,61 persen.
Di kawasan Sekar Kijang yang meliputi Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang, Jember menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi. Banyuwangi mencatatkan pertumbuhan 6,14 persen, disusul Lumajang 5,89 persen, Situbondo 5,50 persen, dan Bondowoso 5,42 persen.
Bagi Gus Fawait, capaian akademik yang diraihnya tidak berhenti sebagai kajian teoritis. Ia menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut harus menjadi dasar penyusunan kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang nyata. Ukurannya bukan hanya angka statistik, tetapi juga berkurangnya kemiskinan, bertambahnya kesempatan kerja, dan meningkatnya daya beli masyarakat,” ulas Gus Fawait.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus memperkuat efektivitas belanja publik agar pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai dapat berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat yang lebih merata bagi warga Jember.
Dengan capaian tersebut, Jember tidak hanya mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang, tetapi juga mulai menunjukkan peran sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di wilayah tapal kuda Jawa Timur. (rus)













