Daerah  

Mantap Jiwa, Kemiskinan di Jember Turun 8 Persen

Bupati Jember, Muhammad Fawait. (Foto: Fathur Rozi)
Bupati Jember, Muhammad Fawait. (Foto: Fathur Rozi)

JEMBER-Angka kemiskinan di Kabupaten Jember pada 2026 mengalami penurunan sekitar 8 persen. Berdasarkan data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, jumlah penduduk miskin yang sebelumnya sekitar 216 ribu orang kini turun menjadi 200,7 ribu orang.

Bupati Jember, Muhammad Fawait menyebut, penurunan tersebut sebagai capaian positif dari berbagai program pemerintah, baik pusat maupun daerah. Bahkan, penurunan jumlah penduduk miskin di Jember diklaim menjadi yang tertinggi di Jawa Timur berdasarkan data BPS.

Fawait menilai, sejumlah program pemerintah turut mendukung penurunan angka kemiskinan. Di antaranya layanan kesehatan gratis melalui Universal Health Coverage (UHC), Home Care, Mobil Cinta, pemberian beasiswa kuliah, pengendalian inflasi melalui program Bunga Desaku, serta bantuan pangan dari pemerintah pusat.

“Secara penurunan angka kemiskinan, penurunan tertinggi itu di Kabupaten Jember se-Jawa Timur tahun 2026. Artinya, program kita berhasil untuk mengurai kemiskinan di Kabupaten Jember,” kata Fawait.

Menurutnya, akses kesehatan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah masyarakat jatuh miskin. Sebab, warga yang mengalami sakit berkepanjangan berisiko kehilangan pendapatan sekaligus menanggung beban biaya pengobatan.

“Di Jember hari ini, pelayanan kesehatan kita bisa diklaim salah satu yang terbaik di Jawa Timur karena kita sudah memastikan biayanya gratis. Kalau berkepanjangan ada Home Care, kemudian pulangnya kalau sudah habis dirawat diantarkan pakai Mobil Cinta,” ujarnya.

Sementara di sektor pendidikan, terdapat beasiswa bagi mahasiswa yang ber-KTP Jember. Fawait menyebut, pada 2025 dan 2026, pihaknya menargetkan total sekitar 11 ribu mahasiswa penerima beasiswa yang pembiayaannya diberikan hingga mereka menyelesaikan pendidikan sesuai ketentuan program.

Selain itu, Pemkab Jember berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi. Program pasar murah dan Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan (Bunga Desaku) disebut menjadi bagian dari upaya menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok.

“Bunga Desaku itu salah satu souvenirnya adalah paket sembako. Nah, paket sembako itulah salah satu yang bisa mengendalikan inflasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fawait menilai, bantuan pangan oleh pemerintah pusat juga mempengaruhi penurunan angka kemiskinan dan inflasi.

“Khusus akhir tahun ini, Kolaborasi antara Pemkab Jember dengan Bulog Jember, kami akan antarkan ke rumah masing-masing penerima. Biasanya dibagikan di balai desa,” terang Gus Fawait, panggilan akrabnya.

Meski demikian, dia menegaskan penurunan kemiskinan saat ini belum menjadi akhir dari upaya pemerintah. Gus Fawait berharap jumlah penduduk miskin di Jember terus berkurang hingga berada di bawah 200 ribu orang.

“Apakah ini cukup? Belum. Ini baru permulaan. Maka kita berharap di tahun-tahun berikutnya kemiskinan di Jember bisa terus turun, bisa terus di bawah angka 200 ribu,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPS Jember, Peni Dwi Wahyu Winarsih menjelaskan, angka kemiskinan 2026 dihitung berdasarkan pendataan pada Maret 2026. Dimana, penghitungan tingkat kabupaten dilakukan setahun sekali melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Dalam keterangannya, ia menyebut jumlah penduduk miskin turun dari sekitar 216 ribu menjadi 200,7 ribu orang. “Alhamdulillah karena ini adalah dampak dari seluruh program Pemkab Jember yang kita cover di bulan Maret 2026,” jelasnya. (fat/rus)

Baca berita lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *