LIMAPULUH KOTA-Deru mesin jahit memecah keheningan di sebuah ruang pelatihan sederhana di Nagari Balai Panjang, Kecamatan Lareh Sago Halaban. Di ruangan itu, lima ibu rumah tangga tampak serius menyusun potongan kain, benang, resleting, dan pola-pola tas yang terbentang di atas meja.
Sulit dipercaya, delapan hari sebelumnya sebagian dari mereka bahkan belum pernah menyentuh mesin jahit. Kini, tangan-tangan yang semula canggung mulai terampil merangkai setiap potongan bahan menjadi tas yang rapi dan siap digunakan. Bahkan, satu tas kini mampu mereka selesaikan dalam waktu sekitar satu jam.
Di balik pelatihan tersebut berdiri Yudorson, seorang desainer sekaligus perajin tas yang telah menekuni profesinya selama hampir 30 tahun. Pengalaman panjangnya ditempa di Bandung, salah satu pusat industri kreatif dan produksi tas di Indonesia.
Menariknya, perjalanan Yudorson menjadi perajin tas berawal dari hobinya mendaki gunung. Saat itu, ia merasa tas kerel yang beredar di pasaran terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Keinginan memiliki tas yang lebih nyaman membuatnya mulai merancang dan membuat tas sendiri.
Ia mempelajari berbagai model tas yang digunakan pendaki dari berbagai negara, mulai dari bentuk, ukuran, pembagian ruang, kekuatan tali hingga kenyamanan saat digunakan. Dari pengamatan tersebut lahirlah tas kerel pertamanya.
Apa yang semula hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, perlahan berkembang menjadi keahlian yang mengantarkannya berkarier selama puluhan tahun sebagai perancang dan pembuat berbagai jenis tas.
Setelah lama berkarya di Bandung, Yudorson memutuskan pulang kampung. Ia ingin ilmu yang dimilikinya dapat diwariskan kepada masyarakat Balai Panjang dan membuka peluang ekonomi baru.
Keinginan itu mendapat dukungan penuh dari Wali Nagari Balai Panjang, Idris. Berkat kolaborasi tersebut, pelatihan pembuatan tas bagi lima ibu rumah tangga akhirnya terlaksana.
Memasuki hari kedelapan, perkembangan peserta terlihat sangat pesat. Mereka tidak hanya belajar mengoperasikan mesin jahit, tetapi juga memahami seluruh proses produksi, mulai dari mengenali bahan, membuat dan membaca pola, memotong kain, memasang resleting, hingga tahap finishing agar menghasilkan tas yang kuat dan berkualitas.
Salah seorang peserta mengaku awalnya sama sekali tidak memiliki pengalaman menjahit.
“Saya benar-benar memulai dari nol. Sebelumnya saya tidak bisa apa-apa dan belum pernah memegang mesin jahit. Sekarang saya sudah bisa membuat tas sesuai pesanan,” ujarnya.
Ia mengaku paling terkesan ketika pada hari kedua pelatihan mereka berhasil menyelesaikan sebuah tas bersama-sama.
“Hari pertama kami hanya mendapat materi dasar. Hari kedua kami sudah berhasil membuat tas. Pelatihan ini membuka wawasan dan memberikan keterampilan yang sebelumnya tidak kami miliki,” katanya.
Peserta tersebut juga menyampaikan apresiasi kepada Yudorson dan Pemerintah Nagari Balai Panjang yang telah membuka kesempatan bagi ibu rumah tangga untuk memperoleh keterampilan baru yang berpotensi menjadi sumber penghasilan.
Hasil pelatihan ini nantinya akan dipasarkan dengan merek Makisi. Namun, Yudorson menegaskan pihaknya belum ingin terburu-buru memasuki pasar.
Menurutnya, fokus utama saat ini adalah meningkatkan keterampilan para peserta agar mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten. Setelah itu, barulah identitas merek, logo, kemasan, hingga strategi pemasaran akan disiapkan secara matang.
“Untuk pemasaran akan kami persiapkan terlebih dahulu, mulai dari kemasan, logo merek Makisi hingga manajemen pemasarannya. Saat ini kami masih fokus pada pelatihan,” kata Yudorson.
Pada tahap awal, produk Makisi akan diperkenalkan di pasar lokal Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh sebagai langkah untuk membangun kepercayaan konsumen sebelum memperluas pemasaran.
Yudorson optimistis usaha pembuatan tas memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Terlebih, satu produk dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar satu jam apabila keterampilan para perajin terus meningkat.
“Apabila para perajin yang kami latih tetap konsisten berkarya, saya yakin dampak ekonominya akan cukup besar,” ungkapnya.
Sementara itu, Wali Nagari Balai Panjang, Idris, menegaskan pemerintah nagari akan terus mendukung program-program yang mampu meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pelatihan tersebut bukan sekadar mengajarkan teknik menjahit, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi ibu rumah tangga.
“Kami sangat mengapresiasi Pak Yudorson yang bersedia membagikan ilmu dan pengalaman selama puluhan tahun kepada masyarakat Balai Panjang,” ujarnya.
Idris berharap lima peserta yang mengikuti pelatihan ini menjadi kelompok perintis yang nantinya mampu menularkan keterampilan kepada masyarakat lainnya.
“Harapan kami, mereka tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya usaha-usaha baru di Nagari Balai Panjang,” katanya.
Di ruang pelatihan sederhana itu, mesin-mesin jahit terus berputar. Potongan kain yang semula terpisah kini berubah menjadi tas hasil karya lima perempuan yang baru beberapa hari mengenal dunia menjahit.
Perjalanan Makisi memang baru dimulai. Logo, kemasan, dan strategi pemasarannya masih dipersiapkan. Namun, satu hal yang sudah lahir lebih dulu adalah tumbuhnya kepercayaan diri, keterampilan, dan harapan baru bahwa masyarakat nagari mampu menghasilkan produk berkualitas serta menciptakan peluang ekonomi dari tangan mereka sendiri. (jnd)












