Daerah  

IHR Sukses Datangkan Keramaian, Manfaat Ekonominya Harus Bisa Diukur

UMKM yang ikut ramaikan IHR di Payakumbuh.
UMKM yang ikut ramaikan IHR di Payakumbuh.

PAYAKUMBUH-Indonesia’s Horse Racing (IHR) sudah dua kali digelar di Payakumbuh. Kehadiran event pacuan kuda berskala nasional ini patut diapresiasi.

Penontonnya ramai, peserta datang dari berbagai daerah, dan Payakumbuh kembali mendapat panggung sebagai salah satu kota penyelenggara pacuan kuda nasional.

IHR juga membawa warna baru. Pacuan kuda tidak hanya hadir sebagai olahraga tradisional, tetapi dikemas menjadi tontonan yang lebih modern dan mampu menarik banyak pengunjung.

Namun setelah dua kali menjadi tuan rumah, ada satu hal yang juga penting untuk dilihat: sudahkah pemerintah menghitung berapa manfaat ekonomi yang benar-benar tinggal di daerah?

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Kampus Payakumbuh, Weriantoni, Rabu (26/8/2026), mengatakan ramainya pengunjung saja belum cukup untuk menyimpulkan sebuah event memberi dampak ekonomi besar bagi daerah.

Menurutnya, dampak ekonomi perlu dihitung dari sisi langsung maupun tidak langsung.

“Secara langsung bisa dilihat dari jumlah pengunjung, rata-rata pengeluaran pengunjung, seperti BBM, tiket, UMKM yang terlibat, baik di tenant maupun di luar tenant, termasuk sektor ekonomi informal,” kata Weriantoni saat berdiskusi soal dampak ekonomi penyelenggaraan IHR di Payakumbuh.

Namun perhitungannya tidak berhenti pada transaksi di lokasi acara.

Dampak tidak langsung juga perlu dilihat dari rantai pasok usaha yang ikut bergerak.

Ia mencontohkan pedagang es tebu. Selain menghitung omzet pedagang, perlu dilihat dari mana bahan bakunya berasal.

Jika tebu dibeli dari petani atau pemasok di Payakumbuh maupun Limapuluh Kota, berarti perputaran ekonomi ikut dirasakan sampai ke pemasok.

Menurut Weriantoni, hal seperti itu yang perlu dihimpun pemerintah jika ingin mengetahui seberapa jauh sebuah event benar-benar menggerakkan ekonomi lokal.

“Belum bisa. Tetap harus dihitung dan dihimpun datanya, berapa perputaran uang yang mengalir dan dinikmati masyarakat serta UMKM lokal,” ujarnya.

Pada penyelenggaraan IHR Cup II 2025 di Payakumbuh, SARGA.CO mencatat rangkaian IHR dan Sarga Festival dikunjungi sekitar 50 ribu orang dari Sumatera Barat hingga Riau dan Jambi.

Angka itu menunjukkan besarnya daya tarik IHR sekaligus peluang bagi Payakumbuh untuk memanfaatkan event tersebut sebagai magnet kunjungan dan promosi daerah.

Saat itu tiket IHR terdiri dari area regular Rp10 ribu, tribun Rp50 ribu, serta area gratis.

Pada IHR Merdeka Cup 2026, tiket regular dijual Rp25 ribu, tribun Rp100 ribu, serta VIP atau Mounting View Rp750 ribu secara online dan Rp1 juta jika dibeli langsung di lokasi. Informasi terbarunya, IHR Merdeka Cup 2026 disaksikan Hampir 18.000 penonton

Media juga menelusuri sisi penerimaan daerah.
Dari hasil konfirmasi kepada Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Payakumbuh, pihak yang tercatat sebagai wajib pajak PBJT kegiatan IHR Merdeka Cup 2026 adalah PT Kuda Pacu Indonesia.

BKD menjelaskan mekanisme pajaknya menggunakan sistem self assessment, yakni wajib pajak menghitung sendiri kewajiban berdasarkan transaksi, kemudian menyetor dan melaporkannya kepada pemerintah daerah.

BKD juga menyebut melakukan pendataan dan monitoring transaksi, penelitian laporan pajak serta rekonsiliasi pembayaran.

Pajak menjadi salah satu manfaat langsung bagi daerah. Namun untuk melihat dampak IHR secara utuh, hitungannya tentu tidak berhenti di sana.

Menurut Weriantoni, pemerintah perlu mengetahui siapa yang menikmati perputaran uang.

Bukan hanya berapa besar transaksi yang terjadi, tetapi apakah manfaatnya sampai kepada UMKM lokal, masyarakat sekitar, pedagang kecil dan sektor ekonomi informal.

Pada IHR Cup II 2025, Ketua Harian PORDASI Kota Payakumbuh Mardion Fernandes pernah menyatakan kegiatan tersebut tidak menggunakan anggaran APBD maupun anggaran PORDASI Payakumbuh dan Sumbar.

Biaya lapangan dan pagar ketika itu disebut ditanggung SARGA.CO. Panitia juga disebut memberikan kontribusi Rp12,5 juta kepada dua nagari yang menjadi tuan rumah kegiatan.

Jika pola penyelenggaraan seperti itu mampu mendatangkan puluhan ribu pengunjung tanpa membebani APBD, tentu menjadi nilai tambah.

Namun manfaat tersebut akan jauh lebih kuat bila pemerintah juga mempunyai angka mengenai dampak ekonominya kepada masyarakat.
Menurut Weriantoni, setelah dua kali IHR berlangsung di Payakumbuh, pemerintah daerah seharusnya sudah mempunyai data dan evaluasi dampak ekonomi.

“Seharusnya ada. Ini diperlukan sebagai pembanding untuk menentukan apakah masih layak sebuah event besar digelar. Itu juga menjadi indikator kesuksesan sebuah event,” katanya.

Evaluasi itu bisa melihat jumlah pengunjung, rata-rata belanja, UMKM yang terlibat, transaksi pedagang, penginapan, rumah makan, transportasi hingga pemasok lokal.

Dengan data tersebut, keberhasilan IHR tidak hanya terlihat dari ramainya gelanggang, tetapi juga bisa dibuktikan dengan manfaat ekonomi yang ditinggalkan.

IHR telah menunjukkan kemampuannya mendatangkan orang dan menghidupkan kembali daya tarik pacuan kuda di Payakumbuh.

Karena itu, evaluasi bukan untuk mempertanyakan keberadaan IHR. Justru evaluasi diperlukan agar event besar seperti ini bisa terus berkembang dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

Sebab gelanggang yang penuh bisa terlihat dengan mata. Yang perlu dihitung berikutnya adalah berapa rupiah yang berputar, ke mana uang itu mengalir, dan seberapa banyak masyarakat Payakumbuh yang ikut menikmatinya. (jnd)



Kunjungi Kami di Google News:

google news
Exit mobile version