PADANG-Si Mister Bolu Ketan perlu tahu kalau sekarang di Sumbar mencari solar ibarat mencari emas. Susah didapat dan harus antre berjam-jam. Kondisi itu mengakibakan sopir bus, truk dan kendaraan diesel lainnya kehilangan waktu, jam istirahat dan trip.
Si Mister Bolu Ketan di Jakarta, tiap hari bisa senyam-senyum dan menyebut distribusi BBM lancar-lancar saja. Si Bolu Ketan merupakan orang yang bertanggung jawab dengan ketersediaan energi di negeri ini.
“Lah parah nagari, Yuang. Jan galak ka galak juo waang lai,” kata seorang pengemudi truk di Padang, Kamis (23/7/2026). Bagi warga Padang, coba tengok kawasan sekitar SPBU, pasti ada antrean Panjang.
Menurut warga, antrean panjang itu membuat kemacetan. Semua warga dirugikan lantaran solar susah. Di lain pihak, pemerintah tak serius mengurai persoalan itu. Uang negara dihabiskan untuk proyek mubazir seperti MBG, Koperasi Desa Merah Putih dan korupsi yang dari hari ke hari makin dilakukan secara vulgar. Korupsi tak lagi malu-malu, tapi dilakukan terang-terangan.
Harusnya, uang negara itu dimanfaatkan untuk mengurai sengkarut BBM. “Belum juga puas melihat negara yang sudah amburadul,” tanya Agus, sopir lainnya ketika ditemui ketika mengisi solar di Padang.
Si Mister Bolu Ketan harusnya berpikir dan berhitung berapa kebutuhan rakyat. Pemerintah sepertinya asal-asalan mengurus BBM. Pemerintah buta dengan keadaan di lapangan dan menganggap keadaan normal-normal saja, padahal kenyataannya demikian parah.
Krisis solar di Sumatera Barat kian berlarut. Ekonomi masyarakat makin terpuruk dengan susahnya dapat solar. Banyak cerita pilu dari warga yang antre solar. Mereka menunggu hingga empat jam, pas giliran solarnya yang habis.
Lalu, mereka mencari SPBU lain. Lagi-lagi harus antre panjang. Warga menanti tanpa kepastian. (*)












