PADANG-Tiap meter rel kereta api di Sumbar ada sejarahnya. Ada perjuangan yang tak ternilai dalam membangun rel itu. Makanya, rel dan jembatan kereta api yang merupakan peninggalan sejarah tak bisa sembarangan dibongkar. Tak semudah itu, Ferguso!
Ada sejarah di tiap kilometer jalan kereta api di Sumatera Barat. Ada pengorbanan dari para pejuang dan mereka yang dulu dipaksa untuk bekerja dalam membangun rel itu.
Pemerintahan Belanda menerapkan kerja paksa dalam membangun jalan kereta itu. Bahkan, para pekerja itu harus memasang rel di jalur yang ekstrim.
Tak banyak generasi sekarang yang paham dengan sejarah itu.
Sumatera Barat memiliki jalur kereta Padang Panjang–Payakumbuh–Limbanang. Ruas itu merupakan jalur pegunungan dengan gradien ekstrem, sehingga untuk menaklukkannya harus menggunakan jalur rel gigi. Panjangnya adalah 72 kilometer.
Jalur ini sepaket dengan pembangunan jalur Padang–Sawahlunto. Jalur menuju Fort de Kock Bukittinggi selesai pada 1 November 1891. Selanjutnya Bukittinggi–Payakumbuh pada 15 September 1896.
Warisan sejarah itu harus dijaga dan dilestarikan. Susah payah nenek moyang membangun rel itu. Mereka dipaksa kerja oleh pemerintahan penjajahan Belanda.
Lalu, mengapa Belanda bangun rel kereta api di Sumatera Barat? Di Sumatera Barat, jaringan kereta api dibangun untuk menghubungkan Kota Padang dengan tambang-tambang batu bara di Ombilin.
Pada 1883, daerah perkebunan tembakau di Sumatera Timur juga mengambil prakarsa untuk membangun jaringan kereta api. Akan tetapi, tujuan pembangunan rel kereta api oleh pemerintah Belanda di Sumatera tidak hanya didorong oleh pertimbangan ekonomi, tetapi juga untuk kepentingan politik dan militer.
Hal ini dapat dilihat di Aceh, yang secepat mungkin ingin ditaklukkan oleh Belanda. Pada akhir periode sistem ekonomi liberal, di beberapa daerah Pulau Sumatera telah dibangun jaringan kereta api sepanjang kurang lebih 400 kilometer. Pembangunan ini cukup mengesankan, meskipun masih tertinggal jauh dibanding dengan pembangunan di Jawa. Sebab, di pulau-pulau lain tidak dilakukan pembangunan jalur rel kereta api.
Rel kereta api merupakan warisan sejarah kolonial. Kereta api juga merupakan saksi perjalanan sejarah bangsa ini. Pemerintah kolonial membangun rel kereta api untuk menghubungkan antar daerah.
Kereta api memiliki sejarah Panjang. Khusus Sumatera Barat, jalur kereta api dimulai pada zaman penjajahan Belanda dengan pembangunan jalur Pulau Air ke Padang Panjang yang diresmikan pada 6 Juli 1887. Jalur kereta api itu diteruskan ke Bukittinggi sepanjang 90 kilometer dan dioperasikan mulai November 1891. (*)













