Daerah  

Penambang Emas Tanpa Izin di Kuansing Hidup dalam Kegalauan, Ingin Berhenti Tapi Tak Sanggup

Lokasi tambang emas ilegal di Kuansing.
Lokasi tambang emas ilegal di Kuansing.

KUANSING-Penambang emas tanpa izin di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau hidup dalam kegalauan. Mereka ingin berhenti dengan aktivitas itu, tapi tak sanggup.

Hati mereka galau. Tiap hari hariud berhadapan dengan pekerjaan risiko tinggi. Salah-salah dalam bekerja nyawa jadi taruhan. Mereka bekerja tak tenang.

Pekerja tambang emas illegal dihantui akan dikejar-kejar apparat. Mereka sadar apa yang dilakukan memang salah dan merusak alam serta lingkungan.

Mereka bertahan dengan situasi kerja yang pahit karena memang tak ada alternatif lain demi menyambung hidup.

“Kami ingin kerja kantoran, tapi sudah tak bisa,” kata seorang pekerja tambang illegal, Zulkifli, Sabtu (15/11/2025).

Dia menambahkan, anak butuh makan, butuh sekolah dan biaya lainnya. Dapur di rumah juga harus mengepul tiap hari. “Berbagai kebutuhan itu kami dapati dengan menambang,” kata dia.

Ditambahkan, kalau melamar ke perusahaan, syarat harus banyak dan sekarang kowongan kerja juga minim.

Penambang emas lainnya, Amrizal menyebutkan, sebagai pekerja tambang dia tak akan kaya. Sebab, hasil tambang akan jadi milik yang punya dompeng.

“Pekerja cuma dapat upah,” katanya. Upah itu tak memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apalagi sekarang semua mahal, sehingga upah yang didapatkan belum tentu cukup.

Amrizal paham kalau bekerja di tambang ilegal itu salah dan berbahaya, tapi mau bagaimana lagi. “Kalau mau, carikan kami pekerjaan. Kami juga ingin jadi orang berdasi,” katanya.

Mereka yang terlibat dalam tambang emas illegal merupakan warga biasa. Mereka tak punya kebun sawit atau ladang. Mereka cuma punya semangat membara untuk mengubah hidup dengan jalan membanting tulang.

Pekerja bertaruh nyawa di sungai maupun di hutan demi keluarga. Harapan mereka cuma satu, anak dan istri tersenyum saat mereka pulang.

Tentunya, bukan pulang dengan tangan kosong, tapi membawa segepok uang berwarna biru atau merah.

Mereka siap berhenti jadi pekerja tambang ilegal, dengan catatan ada lapangan kerja pengganti.

“Kalau bersikeras juga melarang, antar beras dan lauk ke rumah kami dan biayai pula Pendidikan anak kami,” kata dia.

Nah, Pak Bupati, lai talok? (Ridho)

Baca berita lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *