opini  

Mengenali Potensi Limbah Kulit Pisang Sebagai Sumber Bioetanol Berkelanjutan dengan Inovasi Fotokatalis V-Doped TiO₂

Kulit pisang
Kulit pisang

Pisang merupakan salah satu buah tropis yang paling digemari dan mudah dijumpai di seluruh penjuru Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2023, produksi pisang nasional mencapai 9,34 juta ton pada 2023, menjadikannya komoditas buah terbesar secara nasional.

Namun di balik tingginya konsumsi, tersimpan persoalan lingkungan, sekitar 35% dari total buah pisang adalah kulit, yang sebagian besar berakhir sebagai limbah dan bisa mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun yang sering kali berakhir di tempat pembuangan tanpa dimanfaatkan lebih lanjut.

Menariknya, kulit pisang mengandung berbagai senyawa organik bernilai seperti selulosa (7–12%), hemiselulosa (6–9%), lignin (6–9%), pektin (10–21%), pati (10–12%), serta gula pereduksi seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa yang dapat diubah melalui proses fermentasi menjadi bioetanol. Selain itu, kandungan senyawa fenolik dan flavonoid di dalamnya juga berpotensi dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan farmasi.

Melihat potensi besar tersebut, muncul berbagai inovasi dari kalangan muda untuk mengubah limbah menjadi sumber energi alternatif yang berkelanjutan. Bagi sebagian orang, kulit pisang mungkin tidak berharga—kerap kali hanya berakhir di tempat pembuangan dan menjadi limbah.

Namun, ide brilian dari Tim PKM-RE Universitas Andalas yang diketuai oleh Dela Enjelika serta Nurul Izzati, Fadli Fauzan, dan Anwar Daffi Atmadi Husein sebagai anggota, di bawah bimbingan Dr. Diana Vanda Wellia, M.Si, menunjukkan bahwa di dalam limbah kulit pisang terdapat senyawa potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bioetanol, membuka peluang baru bagi pengembangan energi terbarukan berbasis limbah organik di Indonesia.

Dalam risetnya, tim ini mengembangkan katalis fotokatalitik berbasis TiO₂ yang didoping dengan logam vanadium (V-doped TiO₂) sebagai teknologi utama untuk meningkatkan efisiensi proses pretreatment kulit pisang sebelum fermentasi.

Inovasi ini memiliki novelty pada penerapan V-doped TiO₂ sebagai fotokatalis dalam sistem produksi bioetanol dari limbah kulit pisang, pendekatan yang masih jarang dieksplorasi di Indonesia.

Doping vanadium pada TiO₂ memperluas penyerapan cahaya hingga ke wilayah tampak, menurunkan energi celah pita (band gap), serta meningkatkan aktivitas katalitiknya, sehingga proses degradasi lignoselulosa berlangsung lebih cepat dan ramah lingkungan tanpa memerlukan bahan kimia berbahaya.

Lebih dari sekadar penelitian laboratorium, inovasi ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi bioetanol mendukung SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) dengan menyediakan sumber energi alternatif berbasis biomassa yang ramah lingkungan.

Selain itu, pendekatan berbasis fotokatalis ini juga berkontribusi terhadap SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan menekan emisi karbon dari bahan bakar fosil. Melalui kombinasi inovasi teknologi dan semangat keberlanjutan, riset ini menjadi langkah nyata generasi muda dalam menghadirkan solusi ilmiah yang berpihak pada lingkungan dan masa depan energi Indonesia. (Dela Enjelika, mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Andalas).



Kunjungi Kami di Google News:

google news
Exit mobile version