Daerah  

Kisah dari Daerah Terpencil di Riau, Jalan Seperti Arena Offroad, Pergi Berobat Butuh Empat Jam, Sering Mati Lampu Saat Malam

Jalan yang seperti arena offroad yang harus dilintasi warga tiap hari. .
Jalan yang seperti arena offroad yang harus dilintasi warga tiap hari.

INDRAGIRI HULU-Sebuah kisah nyata yang jarang terekspos muncul dari pelosok Provinsi Riau. Ribuan warga di lima desa hidup serba kekurangan.

Jalan di sana seperti arena offroad. Kalau musim hujan berlumpur, musim panas berdebu.

Jalan itu menjadim ironi di negeri ini. Presiden Prabowo dan elite politik wajib mengetahui tentang kondisi itu. Pembangunan harus dilakukan secara merata di Indonesia.

Daerah terpencil itu berada di Serangge, Kecamatan Batang Peranap, Kabupaten Indragiri hulu (Inhu), Riau.

Daerah itu merupakan contoh nyata kehidupan warga yang bermukim di daerah terpencil.

Daerah itu berada di ujung perbatasan dengan Kabupaten Kuantan Singingi dengan Indragiri Hulu.

Ribuan kepala keluarga warga yang tinggal di lima Desa Serangge ini terisolasi sejak belasan tahun.

Mereka hidup dengan keterbatasan listrik, tanpa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, dan buruknya jaringan internet serta akses jalan.

Lima desa yang terletak jauh dari pusat kota Indragiri hulu dihuni ribuan kepala keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Kepala Desa Serangge 1, Eko Prasetyo menyebutkan, untuk mencapai pusat kota Indragiri Hulu membutuhkan waktu berjam-jam dengan jarak tempuh 80 kilometer. Transportasi harus menempuh jalan yang sangat sulit dilewati.

Dikatakan kepala desa, ketika malam tiba, sering mati lampu. Jaringan listrik belum maksimal.

“Kalau mati lampu, pemukiman warga menjadi hening, yang ada hanya suara jangkrik,” kata dia, Kamis (16/10/2025).

Hingga kini, pemerintah belum memberikan solusi untuk pemenuhan kebutahan dasar masyarakat seperti internet, fasilitas kesehatan serta infrastruktur yang layak sebagaimana warga perkotaan.

Meskipun menjalani hidup dalam serba kekurangan, warga lima desa di Serangge menunjukkan semangat yang luar biasa.

Selama puluhan tahun, warga di sana kalau berobat ke RSUD Teluk Kuantan.

“Lantaran jalan poros Kabupaten Kuantan Singingi walaupun masih tanah bercampur kerikil, tapi jarak tempuhnya hanya empat jam untuk dicapai,” kata kepala desa.

Selain infrastruktur, desa itu juga rawan terhadap ketersediaan pangan.

Kisah dari daerah terpencil ini bertolak belakang dengan kehidupan di perkotaan. Maka, bersyukurlah jadi orang kota. (ridho)



Kunjungi Kami di Google News:

google news
Exit mobile version