JAMBI-Anak sibuk main HP atau gadget, bunda jangan marah. Tak elok marah-marah. Berikan anak edukasi yang baik tentang bahaya kecanduan main HP.
Banyak kaum ibu yang pusing lihat anak selalu bermain game. Jika dilarang akan berhenti sebentar, nanti akan main lagi. Hari sang anak habis dengan bermain game, sehingga tidak peduli dengan aktivitas lainnya, seperti mengerjakan pekerjaan rumah maupun tugas sekolah mereka
- Buka komunikasi dengan anak
Jangan marah, bicaralah dengan baik dan tenang dari hati ke hati, tanyakan apa yang membuat nya suka bermain game. Dari hal tersebut kita akan tahu apa sebenarnya yang diinginkan dari game tersebut. Jelaskan dengan perlahan dampak negatif yang timbul jika bermain game secara terus menerus, seperti nilai sekolah yang menurun, waktu tidur yang berkurang dan berkurangnya bersosialisasi dengan teman dan keluarga
2. Membatasi waktu bermain game
dengan menerapkan aturan yang jelas dan konsisten. Sepakati bersama anak, apakah di hari libur atau akhir pekan, atau setiap hari dengan jadwal 1 jam setiap harinya.atau setelah pekerjaan rumah selesai dilaksanakan. Orang tua harus tegas dalam menerapkan aturan tsb
3.Membuat kegiatan pengganti yang manarik
Melaksanakan kegiatan yang menyenangkan buat anak seperti olahraga yang disukainya, berenang, bermain bola, sepeda atau kegiatan lainnya. Tentunya dengan berolahraga, membuat tubuh anak menjadi segar dan fit. Atau arahkan anak ke coding game sederhana atau animasi
4.Game bukan pelarian tapi jadikan sebagai apresiasi
Jika anak berperilaku positif berikan penghargaan dengan mengizinkan nya bermain game, seperti pabila dia selesai mengerjakan tugas nya , maka diberi reward bermain 30 menit.
5.Orangtua harus memberikan contoh yang baik
Hindari sering-sering menggunakan gadget terutama di depan anak. Gunakan seperlunya dan tarok Kembali ditempatnya. Terapkan waktu bebas gadget untuk semua penghuni rumah.
6.Berikan reward.
Jika anak berhasil mengurangi kebiasaan bermain games, berikan pujian atau hadiah kecil
Setelah berbagai cara anda usahakan tidak juga berhasil, maka sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau terapis anak. Mereka mempunyai cara dan metode khusus untuk penanganannya dan memberikan saran dan penanganan yang tepat untuk kondisi anak. (*)












