JEMBER-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di wilayahnya masih aman. Pasokan dari Pertamina disebut melebihi kebutuhan harian masyarakat, meski antrean kendaraan di sejumlah SPBU masih terjadi.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Jember, Sartini, mengatakan pasokan BBM dari depo Pertamina Banyuwangi maupun Surabaya secara keseluruhan masih mencukupi kebutuhan harian di Jember.
“Kalau kita hitung dan bandingkan dengan kebutuhan harian, suplai dari Pertamina, baik dari Depo Banyuwangi maupun Depo Surabaya, ini cukup,” ujar Sartini, Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan data yang diterima Sartini pada malam sebelumnya, stok Pertalite tercatat sebanyak 235,8 kiloliter, sedangkan kebutuhan hariannya rata-rata 570 kiloliter. Namun, terdapat tambahan pasokan sebanyak 344 kiloliter yang masih dalam perjalanan dari depo.
Dengan demikian, total stok pertalite pada hari itu mencapai 744 kiloliter. Sehingga pengiriman Pertalite pada 14 Oktober terhitung mencapai sekitar 131 persen dari kebutuhan harian Jember.
“Artinya, kemarin pun sebenarnya kita surplus sekitar 31 persen atau ada kelebihan 174 kiloliter,” jelasnya.
Sementara, pada 9 Oktober, pengiriman mencapai 640 kiloliter, sedangkan kebutuhan harian hanya sebesar 570 kiloliter. Pada 10 Oktober, pasokan tercatat 592 kiloliter, kemudian meningkat menjadi 616 kiloliter pada 11 Oktober.
Selanjutnya, pengiriman pada 12 Oktober mencapai 672 kiloliter, disusul 600 kiloliter pada 13 Oktober. Semuanya melebihi kebutuhan harian yang hanya 570 kilometer.
Meski demikian, Sartini mengakui antrean panjang di SPBU masih terjadi. Kondisi geopolitik dan konflik di kawasan Timur Tengah turut mempengaruhi situasi energi, sementara kenaikan harga Pertamax juga mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan Pertalite.
“Penyebabnya juga pengguna pertamax yang beralih ke pertalite karena ada kenaikan harga di jenis BBM pertamax,” ulasnya.
Atas hal itu Sartini menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying. Sebab Pertalite dan Biosolar merupakan BBM bersubsidi yang kuota subsidinya terbatas. Sehingga pembelian berlebih dan penimbunan justru berpotensi mempercepat habisnya kuota yang tersedia.
Ia berharap masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Dengan begitu, distribusi BBM dapat berjalan lebih tertib dan ketersediaannya bisa dimanfaatkan secara merata oleh masyarakat.
“Kalau suplai terus digenjot, tetapi masyarakat terus menimbun, subsidi juga ada batasnya. Kalau habis di bulan-bulan sekarang, bisa jadi dua bulan berikutnya kita kehabisan subsidi. Ini yang harus diketahui masyarakat,” pungkas Sartini. (fat/rus)













