Daerah  

Tiga Abang Becak Dayung di Tanjung Beringin Tetap Bertahan Melayani Warga

M. Yusuf Abang becak dayung sedang mengantar barang dan Saiful Makruf saat mangkal di pajak tradisional Tanjung Beringin
M. Yusuf Abang becak dayung sedang mengantar barang dan Saiful Makruf saat mangkal di pajak tradisional Tanjung Beringin

SERGAI-Di tengah perkembangan zaman dan semakin maraknya penggunaan kendaraan bermotor, tiga penarik becak dayung masih setia mengayuh pedal demi mencari nafkah di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara.

Ketiganya biasa mangkal di kawasan pajak tradisional Desa Pekan Tanjung Beringin. Dengan becak sederhana, mereka setiap hari mengantarkan penumpang maupun membawa barang dagangan sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketiga penarik becak dayung tersebut merupakan warga Desa Pekan Tanjung Beringin, yakni Saiful Makruf (67), warga Kapten Wanrahmad Dusun VII, Muhammad Yusuf (53), warga Dusun XIV Ujung Pasar serta Amin alias Ngantuk (55), warga Gang Damai.

Meski usia tidak lagi muda dan persaingan dengan becak bermotor semakin ketat, ketiganya tetap menjalani pekerjaan tersebut. Bagi mereka, mengayuh becak bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan untuk mempertahankan kehidupan keluarga.

Saiful Makruf mengungkapkan, dirinya telah menjadi penarik becak dayung sejak 1995. Artinya, sudah lebih dari tiga dekade dirinya mengandalkan tenaga untuk mengayuh becak demi mendapatkan penghasilan.
“Sejak tahun 1995 saya bekerja sebagai penarik becak dayung. Sampai sekarang masih inilah pekerjaan saya,” ujar Saiful kepada wartawan, Rabu (24/9/2026).

Namun, Saiful mengakui, keberadaan becak bermotor membuat pendapatan penarik becak dayung semakin terpuruk. Penumpang yang menggunakan jasa mereka tidak sebanyak dahulu.

“Kalau soal saingan dengan becak bermotor, bagaimana lagi. Terpuruklah, parah. Pendapatan sehari paling sekadar cukup untuk makan,” katanya.

Ketika ditanya mengapa dirinya masih memilih menjadi penarik becak dayung di tengah zaman yang semakin modern, Saiful hanya tersenyum. Menurutnya, keinginan untuk memiliki becak bermotor sebenarnya ada, tetapi terbentur keterbatasan modal.
“Ya, mau bagaimana lagi. Tidak ada modal untuk membeli becak bermotor,” ucapnya.

Kondisi serupa juga dialami Muhammad Yusuf dan Amin alias Ngantuk. Keduanya tetap mengayuh becak dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan penghasilan, meski hasil yang diperoleh tidak seberapa.

Di tengah keterbatasan tersebut, masih ada masyarakat yang memilih menggunakan jasa becak dayung. Salah satunya Suaibattul (61), warga Jalan Merdeka, yang mengaku sudah menjadi pelanggan tetap.

Perempuan yang akrab disapa Habibah itu mengatakan, dirinya memilih becak dayung karena merasa lebih nyaman dan santai selama perjalanan.
“Saya memilih naik becak dayung karena enak dan santai. Lagipula sudah menjadi langganan,” kata Habibah.

Keberadaan tiga penarik becak dayung ini menjadi gambaran kecil tentang kehidupan pekerja tradisional yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.

Ketika kendaraan bermotor semakin mendominasi jalanan, mereka tetap mengandalkan tenaga dan pedal becak untuk menyambung hidup.

Bagi Saiful, Yusuf dan Amin, selama masih ada penumpang yang membutuhkan jasa mereka, selama itu pula pedal becak akan terus dikayuh demi sesuap nasi dan keluarga di rumah.(ML.hrp)

Baca berita lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *