SOLOK SELATAN-Bayangkan sebuah perjalanan yang dimulai dari lereng perbukitan hijau, dengan udara sejuk yang menggigit dan suara alam yang merdu.
Kini, petualangan seperti itu bisa dinikmati lebih mudah, bahkan oleh para pemula. Kabupaten Solok Selatan resmi membuka akses baru menuju puncak Gunung Kerinci (gunung tertinggi di Sumatera) melalui jalur yang lebih bersahabat, melewati Nagari Lubuk Gadang Selatan di Kecamatan Sangir.
Tak sekadar membuka jalan, inisiatif ini menjadi titik tolak bagi lahirnya wajah baru pariwisata di wilayah Sarantau Sasurambi. Jalur yang didesain lebih landai ini dirancang khusus agar bisa dinikmati oleh pendaki pemula hingga wisatawan minat khusus, menjadikannya sebagai destinasi yang inklusif tanpa mengorbankan nuansa petualangan alam liar.
Jalur ini merupakan hasil kolaborasi erat antara Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS), yang turut melibatkan TNI melalui program TMMD ke-125, serta gotong royong masyarakat lokal.
Sinergi ini tak hanya membuka jalur fisik, tetapi juga menyusun fondasi bagi pengembangan kawasan yang terintegrasi. Mulai dari peningkatan akses jalan ke Visitor Center, pembukaan lintasan menuju Pos Andalas I, hingga perencanaan lokasi parkir terpadu.
“Lebih dari sekadar akses pendakian, ini adalah pintu masuk bagi berkembangnya UMKM, homestay, dan seni budaya lokal. Kami ingin pariwisata menjadi ruang hidup yang mendukung masyarakat,” ujar Plt. Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Solok Selatan.
Langkah strategis ini diperkuat melalui Perjanjian Hibah Daerah antara Pemkab Solok Selatan dan BBTNKS yang ditandatangani pada 23 Juni 2025.
Dana hibah digunakan untuk membangun infrastruktur penting seperti jalan sepanjang 432 meter ke Visitor Center dan 2,9 kilometer jalur pendakian tambahan yang mengarah ke air terjun. Destinasi eksotis yang kini menjadi bagian dari lintasan resmi.
Bagi Sekretaris Daerah Solok Selatan, Syamsurizaldi keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi bisa saling menopang.
“Pendakian bukan sekadar petualangan fisik. Ini adalah momen untuk membangkitkan ekonomi warga, dengan tetap menjaga kelestarian hutan yang menjadi kekayaan kita bersama,” tegasnya.
Kawasan ini pun mulai dimanfaatkan untuk kegiatan edukatif. Pada 12 Juni 2025, sebanyak 31 CPNS Formasi 2024 mengikuti kegiatan outbound di sekitar Visitor Center sebagai bagian dari orientasi yang diadakan BKPSDM bersama Disparbudpora.
Ini menandai pemanfaatan kawasan tak hanya untuk wisata, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran lintas sektor.
Dengan hadirnya jalur pendakian via Solok Selatan, Gunung Kerinci tak hanya menyambut para penakluk puncak, tapi juga menjadi medan baru bagi masyarakat sekitar untuk menumbuhkan harapan, dalam bentuk warung lokal, homestay kreatif, hingga sanggar seni yang merawat tradisi.
Solok Selatan tidak hanya membangun jalan menuju gunung, tetapi juga menjembatani impian warganya: menjadi tuan rumah di tanah sendiri, di tengah gelombang wisata yang tumbuh dari semangat kolaborasi dan keberlanjutan. (Ghivatul Aulia Putra, mahasiswa magang di Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Solok Selatan)













