Daerah  

527 Gunungan Diarak, Ancak Agung Jember 2026 Pecahkan Dua Rekor MURI

Arak-arakan gunungan pada acara Ancak Agung di Kabupaten Jember, Sabtu (22/8/2026). Agenda tersebut memecahkan dua rekor MURI sekaligus. (Foto: PPID Sukorambi)
Arak-arakan gunungan pada acara Ancak Agung di Kabupaten Jember, Sabtu (22/8/2026). Agenda tersebut memecahkan dua rekor MURI sekaligus. (Foto: PPID Sukorambi)

JEMBER-Ribuan warga memadati ruas Jalan Gajah Mada hingga Alun-Alun Jember Nusantara, Sabtu (22/8/2026) sore. Mereka menunggu satu per satu gunungan hasil bumi yang diarak dalam Kirab Pawai Budaya Ancak Agung.

Tahun ini, kirab tersebut tampil lebih besar. Sebanyak 527 ancak dari berbagai unsur masyarakat diarak menuju Alun-Alun Jember, Jawa Timur.

Jumlah itu sekaligus membawa Jember kembali mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor sebelumnya tercatat 449 ancak pada penyelenggaraan 2025.

Senior Representative MURI, Ari Andriani, mengatakan jumlah 527 ancak tersebut menjadi yang terbanyak dalam kategori yang dicatatkan.

“Jumlah tersebut kembali memecahkan rekor yang sebelumnya juga dicatatkan Jember sebanyak 449 ancak agung dan tahun ini sebanyak 527 ancak, sehingga menjadi yang terbanyak,” kata Ari di Jember.

Tak hanya jumlah ancak. Jember juga mencatat rekor MURI melalui gunungan suwar-suwir, makanan khas daerah tersebut.

Sebanyak 1.600 bungkus suwar-suwir disusun menjadi sebuah gunungan dengan tinggi mencapai 3,7 meter.

Rupanya, penggunaan suwar-suwir dalam pencatatan rekor bukan tanpa alasan. Produk tersebut sengaja diangkat untuk memperkenalkan makanan khas Jember kepada masyarakat yang lebih luas.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Jember, Nurul Hafid Yasin sebelumnya mengatakan, kegiatan tersebut memang diarahkan tidak hanya sebagai seremoni.

Selain menjaga tradisi, kata Hafid, Ancak Agung juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah sekaligus mengangkat potensi lokal Jember.

“Tahun ini, Ancak Agung digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tema yang diangkat adalah Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember,” terangnya.

Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, dua momentum tersebut memiliki pesan yang sama, yakni persaudaraan, kecintaan terhadap tanah air, dan kepedulian terhadap sesama.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan HUT Kemerdekaan RI sama-sama membawa pesan penting tentang persaudaraan, kecintaan terhadap tanah air, serta kepedulian terhadap sesama,” kata Gus Fawait, sapaan akrabnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga persatuan dan toleransi di tengah keberagaman Jember. Karena menurut Fawait, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW semestinya juga tercermin dalam sikap menghormati orang lain, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

“Jangan mengaku cinta Rasulullah kalau masih mengganggu ibadah dari umat beragama yang berbeda. Itu pesan dari Ancak Agung pada sore hari ini,” ujarnya.

Pesan itu berjalan beriringan dengan suasana kirab. Peserta datang dari berbagai unsur, mulai organisasi perangkat daerah, puskesmas, kelurahan, desa, sekolah hingga lembaga kemasyarakatan.

Masing-masing membawa ancak berisi hasil bumi dan makanan tradisional. Ada sayuran, buah-buahan, makanan olahan hingga berbagai produk lokal yang ditata dalam bentuk gunungan.

Setelah prosesi pencatatan MURI selesai, hasil bumi tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat yang sejak siang menunggu di sekitar Alun-Alun Jember. Bagi warga, bagian ini justru menjadi salah satu yang paling ditunggu.

Agus, salah seorang warga Jemberlor, Kecamatan Patrang, yang menyaksikan acara tersebut, mengaku membawa pulang sejumlah buah-buhan hingga sayuran.

Ia mengaku akan membagikan hasil buruannya itu untuk para tetangga di lingkungannya. “Kalau dimakan sendiri tidak akan habis. Jumlahnya banyak,” ungkapnya. (rus)



Kunjungi Kami di Google News:

google news
Exit mobile version