Mahasiswa KKN UNAND Reguler I Ampek Koto Palembayan dari Jurusan Kimia Melakukan Edukasi Kualitas dan Pemeriksaan Air Pascabencana Hidrometeorologi Melalui Eksperimen Kimia Sederhana

Pascabencana hidrometeorologi seperti banjir dan hujan ekstrem, kualitas air sering mengalami penurunan akibat tercampur lumpur, sampah, limbah rumah tangga, serta bahan organik.

Air yang sebelumnya layak digunakan dapat berubah menjadi tidak aman bagi kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kualitas air dan cara pemeriksaan air secara sederhana.

Kualitas air adalah kondisi air yang menunjukkan apakah air tersebut aman dan layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Pemeriksaan kualitas air tidak selalu memerlukan alat laboratorium yang rumit.

Beberapa parameter sederhana seperti pH, warna, bau, dan rasa dapat digunakan untuk menilai kualitas air secara awal. Melalui edukasi dan eksperimen kimia sederhana, masyarakat diharapkan mampu mengenali dan menangani permasalahan kualitas air secara mandiri, terutama pada kondisi pascabencana.

Penilaian kualitas air secara sederhana dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter utama, yaitu pH (derajat keasaman), warna, bau, dan rasa. Parameter-parameter ini mudah diamati dan dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi air yang digunakan Masyarakat

  1. pH air
    pH air menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan suatu air. Skala pH berkisar antara 0 sampai 14. Air dengan pH kurang dari 7 bersifat asam, pH sama dengan 7 bersifat netral, dan pH lebih dari 7 bersifat basa.

Air yang baik untuk digunakan berada pada rentang pH 6,5–8,5. Rentang ini dianggap aman karena pH netral hingga sedikit basa tidak merusak kulit, tidak menyebabkan korosi pada pipa, aman bagi tubuh manusia dan organisme air, serta tidak mengganggu rasa air

a. Penyebab pH Air Rendah (pH < 6,5)
Air dengan pH rendah atau bersifat asam dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Air hujan secara alami memiliki pH sekitar 5–6 karena gas-gas di udara seperti karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan nitrogen dioksida (NO₂) larut dalam air hujan dan membentuk asam lemah.

Selain itu, pembusukan bahan organik seperti sisa daun, kayu, lumpur, bangkai hewan, dan sampah rumah tangga dapat menghasilkan zat asam yang menurunkan pH air. Limbah rumah tangga dan pertanian, seperti air cucian, sisa makanan, serta pupuk kimia tertentu, juga berkontribusi terhadap penurunan pH air.

b. Penyebab pH Air Tinggi (pH > 8,5)
Air yang bersifat basa umumnya disebabkan oleh kandungan mineral kapur yang tinggi di dalam tanah. Selain itu, sisa sabun dan deterjen dari aktivitas rumah tangga dapat meningkatkan pH air.

Reaksi kimia di dalam air juga dapat menghasilkan ion hidroksida (OH⁻). Ion OH⁻ berfungsi menetralkan asam dan menyebabkan air menjadi bersifat basa. Air dengan pH tinggi biasanya terasa pahit dan licin serta dapat menimbulkan kerak pada pipa dan peralatan rumah tangga

  1. Warna Air

Air yang berkualitas baik seharusnya tidak berwarna atau jernih. Warna pada air menandakan adanya pencemaran atau kandungan tertentu. Warna keruh dapat disebabkan oleh lumpur, warna kuning atau cokelat sering menandakan adanya zat besi, sedangkan warna gelap dapat menunjukkan adanya bahan organik terlarut. Oleh karena itu, perubahan warna air perlu diwaspadai sebagai tanda penurunan kualitas air

  1. Bau Air
    Air yang baik tidak memiliki bau. Bau pada air menandakan adanya masalah, seperti pembusukan bahan organik, aktivitas bakteri, atau pencemaran limbah rumah tangga. Air yang berbau tidak layak digunakan karena dapat mengindikasikan adanya zat berbahaya atau mikroorganisme patogen.
  2. Rasa Air
    Air yang layak digunakan seharusnya tidak berasa atau tawar. Rasa asam pada air menandakan pH rendah, sedangkan rasa pahit dapat menunjukkan pH tinggi atau kandungan mineral yang berlebihan. Selain itu, rasa tertentu pada air juga dapat menandakan adanya kontaminan kimia.
    Metode

Alat dan Bahan :

  • Sampel air yang digunakan masyarakat
  • Alat ukur pH sederhana (kertas indikator pH)
  • Gelas atau wadah transparan
  • Asam dan sabun (sebagai pembanding pH)

Prosedur Kerja :

  1. Pengambilan Sampel Air
    Sampel air diambil langsung dari kran sekolah SMA N 1 Palembayan
  2. Pengukuran pH Air
    Pengukuran pH dilakukan menggunakan kertas indikator pH dengan cara mencelupkan kertas pH ke dalam sampel air sampel, dicatat dan dibandingkan dengan rentang pH air yang baik
  3. Pengamatan Warna Air
    Sampel air diamati secara visual dengan menggunakan wadah transparan
  4. Pengamatan Bau Air
    Sampel air dicium secara perlahan untuk mengetahui ada atau tidaknya bau
  5. Pengamatan Rasa Air
    Air di rasakan dengan cara mencicipi air dalam jumlah sangat sedikit

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan kegiatan edukasi dan pemeriksaan kualitas air yang telah dilakukan melalui eksperimen kimia sederhana, diperoleh hasil bahwa kualitas air berada dalam kondisi yang baik dan layak digunakan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pH air berada pada kondisi netral, yaitu pada pH 7. Kondisi pH ini menunjukkan bahwa air aman digunakan untuk keperluan sehari-hari dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit maupun gangguan kesehatan.

Selain parameter pH, hasil pengamatan terhadap sifat fisik air menunjukkan bahwa air tidak berbau, yang menandakan tidak adanya pembusukan bahan organik, aktivitas bakteri berlebihan, maupun pencemaran limbah rumah tangga. Air juga tidak berasa, sehingga menunjukkan bahwa pH air berada pada kondisi normal dan tidak mengandung mineral atau zat kimia dalam jumlah berlebih. Dari segi warna, air yang diperiksa tidak berwarna atau jernih, yang menandakan tidak adanya kandungan lumpur, zat besi, maupun bahan organik terlarut.

Kesimpulan

Edukasi kualitas air dan pemeriksaan air pascabencana hidrometeorologi sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat. Pemeriksaan sederhana melalui parameter pH, warna, bau, dan rasa dapat membantu masyarakat mengenali kondisi air secara mandiri.
Melalui eksperimen kimia sederhana seperti penambahan kapur dan filtrasi arang aktif, kualitas air dapat diperbaiki agar lebih aman digunakan. Kegiatan edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya air bersih serta mendorong penerapan solusi sederhana dalam menjaga kualitas air di lingkungan pascabencana

Daftar Pustaka

Sri Handayani, Sudarti, Yushardi.(2023). Analisis Kualitas Air Minum Berdasarkan Kadar Ph Air Mineral Dan Rebusan Sebagai Sumber Energi Terbarukan. OPTIKA: Jurnal Pendidikan Fisika Vol. 7(2), Universitas Jember.
Maria Guiseppina.(2024).Uji sederhana kualitas air dalam rumah tangga.Jurnal Locus Penelitian Dan Pengabdian 3 (7), 597-603.Universitas Indraprasta PGRI

(Penulis Nazwa Fitriana Asyfa 2310412004)



Kunjungi Kami di Google News:

google news
Exit mobile version