Piala Dunia Masih Terlalu Jauh, Titik Puncak Sepak Bola Indonesia: Minta Maaf!

Pemaain timnas Indonesia
Pemaain timnas Indonesia

PADANG-Titik puncak sepak bola Indonesia adalah minta maaf. Sudah tak berbilang permintaan maaf diucapkan. Minta maaf disampaikan pemain, pelatih, pengurus PSSI maupun Kemenpora mana kala timnas gagal mencapai puncak prestasi.

Permintaan maaf terakhir adalah ketika Indonesia gagal ke Piala Dunia 2026. Ucapan maaf disampaikan Ketua Umum PSSI, pemain serta jajaran pelatih. Pada satu sisi, ucapan maaf baik guna mengobati kekecewaan penggemar sepak bola maupun masyarakat. Namun di sisi lain, ucapan maaf rasanya juga kurang cukup. Harusnya, ada sikap yang lebih jantan: mundur dari jabatan.

Soal maaf-memaafkan memang urusan gampang. Tinggal bilang yes, maka persoalan selesai. Namun, ke depan, harus ada perubahan yang radikal dalam menuju prestasi. Cara instan memang tak ideal. Sepak bola negara lain terus berpacu dengan meningkatkan kualitas kompetisi. Sementara sepakbola nasional hanya mengejar prestasi, abai dengan tujuan membina sepak bola.

Kompetisi harusnya menjadi universitas guna mengasah ketajaman pemain. Muaranya, akan lahir pemain lokal yang berkualitas. Pemain berkualitas itulah yang akan membela tim nasional.

Di Indonesia, pemain asing yang membela klub sangat banyak. Akibatnya, jam terbang atau menit bermain pemain lokal jadi berkurang. Pemain muda yang harusnya diberi kesempatan, maka terpinggirkan.

Lantaran ucapan minta maaf sudah berulang kali dan menjadi titik puncak sepak bola nasional saat gagal, maka masyarakat bisa menebak apa yang akan terjadi di ujung kompetisi, entah itu Piala Asia, Pra Olimpiade, Sea Games, Piala AFF dan sebagainya. Kalau juara pasti disanjung setinggi lanngit, kalau gagal minta maaf.

Bangsa ini tak pernah belajar dari kegagalan. Dulu Jepang belajar ke Indonesia bagaimana cara main bola dan membuat kompetisi, sekarang Jepang jauh di atas Indonesia dalam segala hal dalam urusan sepak bola.

Saatnya Indonesia serius dalam menata dan membina sepak bola. Pembinaan pemain usia muda harus jadi prioritas. Kompetisi bagi pemain muda harus dibuat di seluruh daerah. Harus ada kesinambungan pembinaan, sehingga tak ada lagi istilah pemain bagus di kala muda, melempem ketika sudah senior. Sampai kapan akan membina sepak bola dengan cara instan. Persoalannya tak sesederhana itu, Ferguso.

Bagi pecinta bola, jangan terlalu memiliki ekspektasi tinggi terhadap sepak bola Indonesia. Lebih baik bersikap biasa-biasa saja agar Anda tak kecewa. Piala Dunia jauh bagi Indonesia. Sementara kita jadi penikmat Piala Dunia aja dulu. (*)

Baca berita lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *